Wednesday, January 21, 2009

Nasrul Azwar "Mak Naih" (Esais, Jurnalis, Kritikus Budaya)

Posted by Dede Pramayoza at 4:11 PM

Nasrul Azwar, adalah nama yang terlintas dalam ingatan saya dalam beberapa hari terakhir ini. Sebabnya, sekaligus Impuls bagi ingatan itu, adalah karena saya sedang belajar menulis esai. Suatu hal yang sudah saya rencanakan sejak lama, dan disarankan pula oleh orang bernama nasrul azwar ini kepada saya, bahkan sejak lima tahun yang lalu. Pada awalnya, saya bermaksud menulis tentang teater saja. Tapi ternyata, seperti yang sudah saya curigai sejak lama, tak terhindarkan untuk bicara hal lain di luar teater. Sebab ternyata banyak hal di luar teater yang turut mempengaruhi gerak teater, baik dalam pembuatannya oleh para pekerja teater, maupun bagaimana ia dicerap dan dimaknai oleh penontonnya.
Lalu, lalu saya mulai dengan mengumpulkan berbagai catatan-catatan yang ada tentang teater, terutama yang hidup di dekat dengan saya, yaitunya di daerah Sumatera Barat. Dalam pengumpulan dan pembacaan tersebut, saya teringat dengan orang ini. Sebab hampir pada sebagian besar tulisan tersebut, nama Nasrul Azwar terlibat, baik sebagai penulis, editor, maupun sebagai ‘promotor-siber’ bagi tulisan orang lain. Kumpulan tulisannya di ruang siber, terkumpul dalam blog berjudul: “Mantagisme”.
Dalam pandangan saya, jika bicara esai dan kritik teater di Sumatera Barat selama satu dekade ini (1999-2009), Nasrul Azwar, atau yang dalam lingkungan kesenian lebih dikenal sebagai “Mak Naih” ini, adalah ‘karakter’ yang harus dicatat. Untuk konteks teater, misalnya, sejauh amatan saya, dia menulis untuk 3 hal: (1) review pertunjukan, (2) analisis keseluruhan, dan (3) evaluasi event dan jaringan.
Saya pikir, intensitas dan sikap “kamari madok” adalah hal yang khas dari manusia yang satu ini. Tulisan-tulisannya, cenderung untuk tidak membeda-bedakan ‘teater’ di Sumatera Barat. ‘Keberpihakan’ tulisan-tulisan Mak Naih, bukan pada komunitas, mahzab, atau perorangan. Keberpihakannya, adalah kepada “teater Sumatera Barat”.
Lebih dari itu, Mak Naih menurut saya, cenderung memposisikan dirinya sebagai “antagonis” terhadap banyak hal. Tidak saja pada konteks pembicaraan teater, ia juga bersikap sama terhadap dunia jurnalistik dan kebudayaan secara umum. Tidak jarang, tulisannya yang “provokatif” tersebut menyumbang konflik pribadi kepadanya. Namun secara umum, orang tetap mengarifi sikap tersebut sebagai bentuk ‘perhatian’ dan kepedulian. Lebih jauh, banyak orang juga memandang ‘sikap’nya ini sebagai budaya berkonflik yang ‘konstruktif’ dan produktif. Bagi sebuah dialektika budaya, katakanlah Minangkabau hari ini, orang semacam ini, perlu ada, agar adagium “basilang api dalam tungku, di sinan api mako ka nyalo” dapat teraktualisasikan dalam kehidupan.

Saat ini, ia hijrah ke Bangka-Belitung, bekerja pada sebuah “media massa” lokal di sana. Namun tulisan-tulisanya masih dapat diikuti pada blog “Bangka Goes Green”.

Tulisan Terkait



2 comments:

Nasrul Azwar on January 21, 2009 4:19 PM said...

Dede yang baik,

Kito senang, ada orang-orang yang mau menulis tentang kesenian umumnya, terutama di Sumatra Barat. Karena, sepanjang sejarah kesenian di Sumatra Barat, kita memang tak memiliki penulis seni (seni pertunjukan) yang konsisten, tabah menyimak, sabar menulis, dan kuat stamina untuk bertahan di "lahan" yang memang tak memberi arti apa-apa bagi kehidupan ekonominya. Kondisi ini memang benar jadinya seperti apa yang Dede katakan, hal-hal yang berada di luar konstelasi teater itu sendiri, yang memengaruhi perjalanan kesenian itu sendiri. Soal ini memang sangat manusiawi sekali.
Tulisan-tulisan yang dihasilkan seorang kritikus atau esais, memang bermuara pada kebutuhan publikasi. Dan wilayahnya ada di media massa. Sementara itu, media massa lokal tidak memberikan apreasiasi yang layak untuk sebuah tulisan seni, juga tulisan lainnya. Untuk mempublish ke media yang terbit di Jakarta, juga menjadi sangat riskan. Sebab, mereka pasti akan memilih tulisan dan reportase wartawannya di Jakarta. Setiap malam puluhan pertunjukan seni digelar di Jakarta itu. Banyak kantong-kantong/komunitas yang giat menggelar pertunjukan seni.
Lalu, kita berpikir realistis saja. Apakah mungkin redaktur di Kompas, Media Indonesia, Republika, Majalah Arti, Jurnas, dan lain sebagainya yang menjadi mainstream media massa, rela memuat sebuah pertujukan teater yang digelar di Padang dan Padangpanjang. Jelas mereka tak akan tertarik, De. Ini bukan soal kualitas penulis di Padang yang rendah. Bukan sama sekali. Kito yakin, kualitas tulisan kawan-kawan setara dengan kawan-kawan di Jakarta, malah bebera hal lebih bagus.Tapi persoalan "hegemoni" dan "kekuasaan".
Postingan artikel-artikel Dede ke e-mail ko, semua kito baco. Proseding diskusi pun kita lahap. Dan kita senang kawan-kawan di STSI aktif berdiskusi dan menulis, yang selama ini suasana seperti ini tak pernah akrab dengan mahasiswa STSI, yang memang terkesan jauh dari suasana keiintelektualan...dan maaf. Dan tampaknya, kini suasana dan iklim dialektis mulai tumbuh. Suasana dan kondisi yang demikian inilah yang terus dijaga, dikawal, dan dikembangkan. Sebab, ke depannya, inilah yang akan mengangkat marwah kesenian Sumatra Barat. Memuncaki perjalanan dan historiografis kesenian secara umum.
Kito sangat meyakini, dunia seni pertunjukan, tak bisa menghindar dari perdebatan pemikiran di dalamnya. Kita tak bisa mengelak dari tesis-antitesis-sintesis yang didedahkan ke hadapan publik. Dan untuk menguatkan jalannya, diskusi, membaca, dan berdebat secara argumentatif, menjadi sebuah keniscayaan. Dan STSI harus "merampok" suasana ini. Jadikan kampus STSI salah satu kantong dan kiblat dalam jagat seni Indonesia, kalai perlu ASEAN dan Dunia.
Kito sendiri belum memberi arti apa-apa dalam seni dan kesenian di Sumatra Barat. Kito lebih suko untuk mengatakan, bahwa kito gagal untuk eksis di dunia seni, khusus dunia kritik.

Dede,

Cobolah bersama kawan-kawan di STSI untuk menerbitkan jurnal seni yang lebih populer, jangan dibebani dengan teoritis. Jurnal ini mesti dikesankan sebagai bacaan siapa saja. Jangan mempersempit ruang baca bagi publik. Kito yakin ini sangat penting. Ini harus hadir.
Selain media cetak, ia harus pula di online kan agar pikiran, gagasan, dan juga pertunjukan-pertunjukan bisa diberi apresiasi orang lain di mana pun ia bisa akses internet. Sangat naif rasanya, jika sebuah sekolah tinggi seni tak memiliki website yang resmi dan permanen. Harus kita lakukan langkah-langkah yang berani.

Kembali ke soal kritikus seni dan lain-lain tadi. Sumatra Barat seyogyanya memang harus memiliki kritikus yang konsisten menyimak perkembangan seni. Tapi, memang ironis, itu tak ada di Sumatra Barat. Sampai hari ini.

Maka, kini tumpuan diberikan pada STSI. Semoga
Salam ka kawan-kawan, De

Nasrul Azwar

Dede Pramayoza on February 5, 2009 8:00 AM said...

Yup, Maknaih.
Ambo pikia kini banyak nan ka jadi penulis baik untuk seni budaya. Dalam catatan ambo, ado: Dedy Arsya, Faiz Muhammad, Pinto Anugrah dan Esha tegar Putra di Padang.
Sementara di Padangpanjang, ambo indak pulo surang. Ada Husin yang juga giat menulis. Mungkin sesekali mak naih perlu menanggapi tulisan-tulisan inyo di http://teaterlorong.blogspot.com.
Trimokasih...atas suportnyo...

NB:ada http://pekanapresiasiteater.blogspot.com
Kalau mau, kirimlah semacam pengantar ke Sana.

Salam
DEDE

Post a Comment

SILAHKAN BERI TANGGAPAN SANAK DI SINI

 

Rekomendasi

Tulisan Terakhir

Popular Posts

dede pramayoza | weblog Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez